ARAH
LANGKAH
Bagian
2
Awan mendung terus menyelimuti kota Jakarta,
rintik-rintik hujan mulai bernyanyi dan membasahi tanah. Andi sedikit gusar, sudah jam 7 pagi, namun
hujan baru mulai turun. Ini bulan
Agustus, ya kata orang tua dulu, kalau sudah masuk bulan yang ada ber… ber..
nya pasti musim hujan, tapi inikan baru bulan Agustus.
Rasa gelisah terus menghantui Andi, ini hari pertama
iya masuk kerja, namun ada kendala cuaca.
“Aduh… gimana ini, ujannya deres banget lagi” gelisah
andi dalam hati
“Andi.. belum berangkat, katanya mau kerja” Tanya
emak andi
“iya mak… ini masih ujan”
“Itu kan di lemari ada mantel hujan bekas babeh luh,
sana lu ambil”
“iya mak, andi cari”
Bergegas Andi mencari mantel hujan bekas Almarhum
babehnya,
“Assalamu’alaikum mak, andi berangkat kerja ya” pamit
andi kepada emanknya
“Waalaikumsallam, biar betah luh, ati-ati kalau
kerja, jangan ceroboh, jangan males juga luh”
“Iya mak, minta ridhonya ya mak”
“iye..dah sono, makin deres aje ntar tuh ujan”
Andi bergegas berangkat kerja, hari pertama, apapun
kegiatannya, hari pertama memang penuh dengan misteri, bayangan dalam hati bisa
jadi seneng, bisa jadi takut, ataupun bisa jadi minder. Pengalaman pertama bekerja ini membuat andi
lebih memantapkan tekad nya untuk membantu keuangan keluarga.
Hutan tak kunjung berhenti, jalan-jalan di kota
Jakarta mulai terendam banjir, tapi itu tak menyurutkan semangat andi. Ia
semakin memacu motornya agar lebih cepat sampai di tempat kerja. Tiba-tiba mata andi terarah pada halte bus,
dia melihat Hera sedang menepi dan menunggu bus. Andi pun langgung menepikan
motornya dan mendekati Hera.
“Pagi…” sapa andi kepada hera
“Pagi, eh kamu…”
“Mau berangkat kerja?”
“Iya nih, tapi ujannya nggak berhenti juga”
“ya udah, kamu ikut aku aja, kita berangkat kerja bareng,
gimana?”
“Boleh nih?”
“Ya boleh lah…”
Andi dan Hera pun berangkat bersama, didalam
perjalanan mereka saling bercerita dan memperkenalkan diri mereka. Namun dalam
pembicaraan tersebut belum ada yang terlalu intim hanya sekedar pembicaraan
pertemanan biasa. Malu, memang sedikit
malu, itu yang dirasakan andi. Ya maklumlah, masih jaga image sih.
Andi meyakini bakal penuh semangat hari-hari kerjanya
kemudian, ya iyalah, karena ada Hera.
Waktu terus berlalu, hari demi hari Andi dan Hera
kian dekat. Kedekatan merekapun sudah
lebih dari sekedar teman saja, namun hingga detik ini belum ada diantara mereka
yang menyatakan perasaan cinta. Sampai
pada suatu hari, andi memberanikan diri menyatakan cintanya
“Hera.. aku mau ngomong bisa nggak?”
“ya ngomong aja…emang biasanya nggak pernah ngomong
sama aku?”
“iya sih… tapi ini beda”
“apanya yang beda… ih kamu bikin aku penasaran aja”
Detak janjung andi terus berdebar, takut dan malu,
itu yang menghiasi benaknya, dia khawatir ditolak, dan takut kalau nanti malah
jauh dari Hera.
“hera… bisa kita bicara 4 mata saja disana” Andi
mengajak hera
“Bisa”
Andi dan hera berjalan kesebuah gazebo di restoran, romantic
sih. Mau nembak cewek di restoran, tapi saying di tempat kerja.
“Hera, sebenernya aku…” andi gugup
“sebenarnya kenapa..”
“Aku…”
“Aku Apa”
“jangan dipotong dulu kenapa, udah kaya pak umar aja
kamu main potong-potong”
“ya udah terusin, aku dengerin”
“Sejak pertama aku liat kamu di restoran ini, aku
terus kebayang saya kamu, dan itu yang bikin aku semangat kerja biar tiap hari
diomelin pak umar, dipanggil ke ruang hrd sama pak rudi, tapi aku tetap
semangat, karena ada kamu” andi perlahan mencurahkan isi hatinya
“Aku Cinta Sama Kamu Hera”
"Kamu mau jadi pacar aku?"
"Kamu mau jadi pacar aku?"
Hera sejenak terdiam, dan hanya menunduknan wajahnya,
“kok kamu diam… aku salah ya”
“nggak ko.. aku hanya bingung”
“Bingung kenapa?”
“ya bingung aja harus jawab apa”
“kan jawaban itu hanya iya atau tidak, apa kamu sudah
punya pacar?”
“Belum sih… tapi aku takut, kalau nanti pacaran malah
buat kita jauh dan banyak masalah”
“kenapa harus takut”
“Aku belum bisa jawab sekarang”
“Oh… ya udah nggak kenapa”
Tanpa ada kepastian dan jawaban Andi merasa galau,
dia terus berpikir hera tidak membalas cintanya. Walau demikian andi tetap sabar dan waktu
terus berlalu tanpa ada jawaban cinta dari hera, namun sikap hera kepada andi
tidak berubah, hera tetap perhatian dan gelak candanya membuat andi selalu
yakin hera cinta kepada andi.