Jumat, 13 Mei 2016

ARAH LANGKAH BAGIAN 2

ARAH LANGKAH
Bagian 2

Awan mendung terus menyelimuti kota Jakarta, rintik-rintik hujan mulai bernyanyi dan membasahi tanah.  Andi sedikit gusar, sudah jam 7 pagi, namun hujan baru mulai turun.  Ini bulan Agustus, ya kata orang tua dulu, kalau sudah masuk bulan yang ada ber… ber.. nya pasti musim hujan, tapi inikan baru bulan Agustus.

Rasa gelisah terus menghantui Andi, ini hari pertama iya masuk kerja, namun ada kendala cuaca.

“Aduh… gimana ini, ujannya deres banget lagi” gelisah andi dalam hati
“Andi.. belum berangkat, katanya mau kerja” Tanya emak andi
“iya mak… ini masih ujan”
“Itu kan di lemari ada mantel hujan bekas babeh luh, sana lu ambil”
“iya mak, andi cari”

Bergegas Andi mencari mantel hujan bekas Almarhum babehnya,
“Assalamu’alaikum mak, andi berangkat kerja ya” pamit andi kepada emanknya
“Waalaikumsallam, biar betah luh, ati-ati kalau kerja, jangan ceroboh, jangan males juga luh”
“Iya mak, minta ridhonya ya mak”
“iye..dah sono, makin deres aje ntar tuh ujan”

Andi bergegas berangkat kerja, hari pertama, apapun kegiatannya, hari pertama memang penuh dengan misteri, bayangan dalam hati bisa jadi seneng, bisa jadi takut, ataupun bisa jadi minder.  Pengalaman pertama bekerja ini membuat andi lebih memantapkan tekad nya untuk membantu keuangan keluarga.

Hutan tak kunjung berhenti, jalan-jalan di kota Jakarta mulai terendam banjir, tapi itu tak menyurutkan semangat andi. Ia semakin memacu motornya agar lebih cepat sampai di tempat kerja.  Tiba-tiba mata andi terarah pada halte bus, dia melihat Hera sedang menepi dan menunggu bus. Andi pun langgung menepikan motornya dan mendekati Hera.

“Pagi…” sapa andi kepada hera
“Pagi, eh kamu…”
“Mau berangkat kerja?”
“Iya nih, tapi ujannya nggak berhenti juga”
“ya udah, kamu ikut aku aja, kita berangkat kerja bareng, gimana?”
“Boleh nih?”
“Ya boleh lah…”

Andi dan Hera pun berangkat bersama, didalam perjalanan mereka saling bercerita dan memperkenalkan diri mereka. Namun dalam pembicaraan tersebut belum ada yang terlalu intim hanya sekedar pembicaraan pertemanan biasa.  Malu, memang sedikit malu, itu yang dirasakan andi. Ya maklumlah, masih jaga image sih.

Andi meyakini bakal penuh semangat hari-hari kerjanya kemudian, ya iyalah, karena ada Hera.

Waktu terus berlalu, hari demi hari Andi dan Hera kian dekat.  Kedekatan merekapun sudah lebih dari sekedar teman saja, namun hingga detik ini belum ada diantara mereka yang menyatakan perasaan cinta.  Sampai pada suatu hari, andi memberanikan diri menyatakan cintanya

“Hera.. aku mau ngomong bisa nggak?”
“ya ngomong aja…emang biasanya nggak pernah ngomong sama aku?”
“iya sih… tapi ini beda”
“apanya yang beda… ih kamu bikin aku penasaran aja”

Detak janjung andi terus berdebar, takut dan malu, itu yang menghiasi benaknya, dia khawatir ditolak, dan takut kalau nanti malah jauh dari Hera.

“hera… bisa kita bicara 4 mata saja disana” Andi mengajak hera
“Bisa”

Andi dan hera berjalan kesebuah gazebo di restoran, romantic sih. Mau nembak cewek di restoran, tapi saying di tempat kerja.

“Hera, sebenernya aku…” andi gugup
“sebenarnya kenapa..”
“Aku…”
“Aku Apa”
“jangan dipotong dulu kenapa, udah kaya pak umar aja kamu main potong-potong”
“ya udah terusin, aku dengerin”
“Sejak pertama aku liat kamu di restoran ini, aku terus kebayang saya kamu, dan itu yang bikin aku semangat kerja biar tiap hari diomelin pak umar, dipanggil ke ruang hrd sama pak rudi, tapi aku tetap semangat, karena ada kamu” andi perlahan mencurahkan isi hatinya
“Aku Cinta Sama Kamu Hera”
"Kamu mau jadi pacar aku?"

Hera sejenak terdiam, dan hanya menunduknan wajahnya,
“kok kamu diam… aku salah ya”
“nggak ko.. aku hanya bingung”
“Bingung kenapa?”
“ya bingung aja harus jawab apa”
“kan jawaban itu hanya iya atau tidak, apa kamu sudah punya pacar?”
“Belum sih… tapi aku takut, kalau nanti pacaran malah buat kita jauh dan banyak masalah”
“kenapa harus takut”
“Aku belum bisa jawab sekarang”
“Oh… ya udah nggak kenapa”

Tanpa ada kepastian dan jawaban Andi merasa galau, dia terus berpikir hera tidak membalas cintanya.  Walau demikian andi tetap sabar dan waktu terus berlalu tanpa ada jawaban cinta dari hera, namun sikap hera kepada andi tidak berubah, hera tetap perhatian dan gelak candanya membuat andi selalu yakin hera cinta kepada andi.




ARAH LANGKAH MP3

ARAH LANGKAH Bagian 1

“ARAH LANGKAH”
Bagian 1

Kadang  menjadi seorang yang berpenampilan pas-pasan dan hanya berpendidikan lulusan S3 (SD, SMP, SMA) tidaklah mudah. Hal itu yang terus berada dalam benak Andi, seorang remaja pria asli Jakarta.  Yah, memang aneh terdengar, nama Andi bukanlah nama yang wajar buat warga asli Jakarta atau lebih dikenal dengan sebutan betawi tulen.  Tapi apa boleh buat, orang tua yang memberikan nama bukan atas permintaan anak yang dilahirkan. Andi lahir pada tahun 1998, ya jelas pada tahun itu, actor kenamaan asal negeri China, Andi Lau menjadi pujaan kamu wanita, makanya Andi merupakan nama yang diinginkan oleh sang ibu, dengan harapan Andi dapat memiliki kecerahan dalam kehidupan layaknya Andi Lau.

Ujian Nasional baru saja dilewati dan hasil nya cukup menggembirakan.  Setelah dinyatakan lulus ujian dari sekolah, hal pertama yang ada dibenak Andi adalah “KERJA”. Karena, sebagai anak Sulung, Andi memiliki kewajiban membantu orang tua, apalagi Andi merupakan anak yatim, karena bapaknya telah meninggal sejak setahun yang lalu akibat kecelakaan.

“Assalamu’alaikum, Mak, Andi Pamit ya” salam Andi kepada ibu nya.
“Waalaikumsallah, mau kemana luh, pagi-pagi dah rapih”
“Andi pengen ngelamar kerja mak, mau coba masukin lamaran kerja”
“Oh, ya udah sono, tapi ati-ati luh yeh, abis ntu luh langsung pulang, jangan maen”
“Iya mak, Andi ngerti”
Andi pamit dan langsung mengeluarkan motornya.

Baru seratus meter andi keluar dari rumahnya
“Oi… Andi, mau kemana luh. Baru jam berapa nih, udah rapih banget” sapa Zaenal, Sahabat Kecil Andi
“Eh elu Nal, gua mau cari kerja Nal,” jawab andi
“Eh buset deh, baru juga dapet kabar lulus, udah langsung seregep banget luh cari kerja, ijazah juga belum nerima kan luh”
“mau gimana lagi Nal, luh tau kan, gua ini anak pertama, gua punya kewajiban bantuain emak gua nyari duit, kan bapak gua udah enggak ada, kalo bukan gua yang kerja bantuin emak, sapa lagi Nal?”
“iya juga sih, ya udah, ati-ati ya, gua doain biar diterima”
“diterima apaan Nal?” Andi merasa bingung
“ya diterima kerja, masa diterima amal perbuatannya, ngaco luh”
“Ah elu nal, bisa aja, ya udah gua cabut dulu” pamit andi kepada Zaenal
Andi melanjutkan perjalannya mencari kerja….

Seharian penuh Andi keliling-keliling Kota Jakarta, dari satu perusahaan ke perusahaan yang lain untuk menaruh Surat Lamaran Kerja, tidak ada satupun yang membuka lowongan pekerjaan.  Sampai ditempat terakhir perjalanannya hari itu, Andi tiba disebuah restoran dikawasan kemang.

“Selamat sore pak” sapa Andi kepada seorang Satpam
“Iya sore, ada yang bisa saya bantu” jawab pak satpam ramah kepada Andi
“Ini pak, saya mau menitipkan Surat Lamaran Kerja di Restoran ini pak”
“Oh kebetulan dek, disini memang sedang membutuhkan pelayan”
“Alhamdulillah, ya Allah” seru andi senang
“Mari dek, saya antar ke ruang HRD”
“Oh. Langsung nih pak”
“Ya iyalah,”
“oke deh kalau begitu”

Dengan penuh semagat Andi berjalan menuju ruang HRD, dalam hatinya terus berdoa semoga bisa diterima bekerja.

“Pranggg….” Bunyi nampan jatuh…
“Ma..af mas, saya nggak sengaja” seorang pelayan bernama Hera tidak sengaja menabrak Andi yang sedang berjalan.
Andi menatap Hera dari ujung kepala sampai ujung kaki
“mas…” Hera memanggil
“Eh iya… nggak apa-apa”
“kamu gimana sih hera… kalo jalan itu harus hati-hati” Pak satpam menegur Hera
“Nggak apa pak.. saya nggak kenapa kok, ya udah pak kita lanjut ke ruang HRD”
Andi melanjutkan keruang HRD namun matanya masih menoleh ke Hera yang sedang membersihkan lantai akibat jatuhnya nampan tadi

“pucuk dicinta ulam pun tiba, bisa menyelam sambil minum air ini, dapet kerja bisa dapet pacar juga, hehehe” Terbesit dibenak Andi

Ya memang Akhir Sekolah bukan hanya menjadi akhir dari perjalanan pendidikan Andi, tapi juga Akhir dari perjalanan cintanya. “Clara” yang sudah 2 (dua) tahun berpacaran dengan Andi memutuskan untuk mengakhiri perjalanan cinta bersama Andi karena Clara harus kuliah di Bandung.

Emang susah untuk move on buat Andi, tapi dia selalu berpikir dan mencoba, karena baginya sebagai seorang pria harus rela menerima apapun bentuk cobaan yang dihadapi.

“tok..tok..tok” pintu diketuk
“Iya. Silahkan masuk”
“Sore pak, ini saya bawa pelamar kerja pak” seru pak satpam
“Oh oke.. silahkan duduk”
“Kalau begitu saya kembali ke pos pak, permisi pak”
“Ok.”
“Selamat sore pak” Andi menyapa Pak Rudi yang merupakan HRD Resto
“Iya sore, siapa nama kamu” Tanya pak rudi
“Andi Pak”
“Ok Andi, coba saya lihat CV kamu”
“ini pak” Andi menyerahkan lamaran kerjanya
“Oh kamu baru saja lulus ya”
“Iya pak”
“Hebat, baru lulus sudah langsung kepikiran untuk cari kerja”
“Iya pak”
“Kok Cuma iya.. iya.. terus, Ok. Kamu saya terima, mulai besok kamu sudah bisa kerja”
“Alhamdulillah pak, terima kasih pak” seru andi senang
“Besok pagi masuk jam 8 langsung temui Umar”
“baik pak”
“Umar itu kepala pelayan”
“Siap pak”
“Ok. Sekarang kamu pulang dan jangan lupa besok masuk jam 8”
“Siap pak, kalau begitu saya pamit pak, Assalamu’alaikum”
“Waalaikumsallam”


Andipun bergegas pulang untuk menyampaikan kabar gembira ini kepada Emaknya, keluar dari ruang Pak Rudi, mata andi terus mencari-cari, ya siapa lagi kalau bukan mencari Hera.